014088900-1612098935-830-556

Waspada! 500 Desa di Jabar Mengharukan Bencana Hidrometeorologis

REPUBLIKA. CO. ID, BANDUNG—- Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jawa Barat (BPBD Jabar) mencatata, ada 500 desa yang merembes ke dalam kategori potensi kematian hidrometeorologis atau bencana yang dipengaruhi oleh cuaca dengan kerawanan dengan tinggi. Menurut Kepala Pelaksana Harian BPBD Jabar Dani Ramdani, 500 desa itu tersebar di dekat di seluruh wilayah kabupaten/kota dalam Jabar. “Hampir di seluruh kota/kabupaten, tapi yang paling banyak dalam Garut, Tasikmalaya, Sukabumi, Bogor karena disesuaikan dengan jumlah wilayah kecamatan dan desanya, paling banyak di sana, ” ujar Dani, Kamis (4/2).

Untuk bagian timur, kata dia, ada di Kabupaten Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Indramayu. Sedangkan bagian utara ada di Subang, Karawang, dan Bekasi. “Ya yang kategori desa dengan daya tinggi bencana itu dari 5. 000 desa di Jabar, tersedia 500-an (yang masuk kategori menyedihkan bencana tinggi), ” kata Dani.

Buat mengantisipasi dampak dari bencana tersebut, kata dia, BPBD Jabar pula bergerak untuk membuat desa tangguh bencana. Hingga akhir Januari lulus, sedikitnya 250 desa telah dibekali konsep dan peralatan untuk menghadapi bencana. “Kita bangun baru 250-an, setengahnya. Kita buat percepatan untuk 250 desa yang lain dengan program fast track, kalau pengampu Destana BNPB itu ada 16 indikator, ” katanya.

Sedangkan untuk situasi saat ini, kata dia, sedikitnya ada tiga indikator dulu. Yakni, ada Satgas, ada peralatan yang stand by dan anggaran dengan tersedia. Selain itu ada parameter yang keempat yaitu indikator pelatihan bagi masyarakat paling tidak tipu dan relawan pemuda. “Indikator yang lain harus membuat peta rawan bahaya di level desa, harus membina jalur evakuasi, dan rambu penyelamatan harus membuat tempat evkuasi, jika selengkap itu, sekarang tiga parameter (satgas, peralatan dan anggaran), kalau ada anggaran apapun bisa dikerjakan, nah anggaran bencana itu yang biasanya tidak tersedia, makanya beberapa bupati membuat Perbup, terkait anggaran untuk bencana dalam APBDes, ” papar Dani.

Dani mengatakan, mitigasi mudah bisa dilakukan di tingkat tempat. Salah satunya dengan memeriksa tata cara air untuk memastikan tak tersedia yang tersumbat atau memeriksa tebing-tebing apakah ada keretakan yang berpotensi longsor. Ada periode golden time untuk meminimalisasi terjadinya korban atma. Periode yang dimaksud ialah nol sampai tiga puluh menit terjadinya bencana. “34 persen faktor keselamatan dari bencana bersumber dari kesiapsiagaan individu yang dibentuk oleh wawasan dan kemampuan yang bersangkutan pada melakukan evakuasi, ” katanya.

Faktor lainnya, kata dia, diberikan oleh pertolongan orang-orang terdekat, yakni anggota tim yang memiliki kemampuan dan agenda kontijensi yang dilatihkan jika terjadi bencana. Faktor ini menyumbang 31 persen. Lalu 17 persen dari pertolongan komunitas baik RT, RW atau lingkungan setempat.

“Peran BPBD, Tim SAR dan petugas lainnya hanya menyumbang 1, 8 persen selalu, karena pada saat golden time mereka tidak berada persis dalam tempat bencana, ” katanya. Sebab karena itu, kata dia, kesiapsiagaan individu, keluarga dan komunitas otoriter diperlukan dalam membangun masyarakat dengan berbudaya tangguh bencana.