Terkatung-katung Lepaskan 1

Terkatung-katung Lepaskan 1. 579 Napi Penyerapan

Kuota yang dikasih kepada Lampung yakni 2. 416 orang napi.

REPUBLIKA. CO. ID, BANDAR TERKATUNG-KATUNG — Lembaga Permasyarakatan (Lapas) & Rumah Tahanan (Rutan) di lingkungan Kanwil Kemenkumham Lampung, telah menjatuhkan 1. 579 oran nara pidana (napi) atau warga binaan semenjak 1 hingga 7 April 2020. Napi asimilasi tersebut tetap mendapat pengawasan ketat dan wajib lapor.

“Sampai 7 April 2020 ada 1. 579 karakter (napi asimilasi). Sampai hari tersebut, masih ada yang lepas satu atau dua orang, ” introduksi Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Lampung Edi Kurniadi kepada Republika. co. id di Bandar Lampung, Selasa (14/4).

Menurut dia, berdasarkan Permenkumham nomor 10 Tarikh 2020 tentang Pemberian Hak Penyerapan Integrasi kepada napi yang telah masuk dua pertiga dan atau sudah menjalani setengah masa pidana, itu diberikan asimilasi di vila. Permenkumham tersebut mengecualikan kepada napi yang terkait dengan PP 99 tentang Pembatasan Hak Remisi, yakni kasus tipikor, teroris, dan narkoba. Sedangkan pengecualian pada napi kejadian narkoba yang pidana di kolong 5 tahun.

Dia mengatakan, dari 1. 579 orang yang mendapat asimilasi, proses pengawasan masih berjalan terus hingga habis masa pidananya. Program asimilasi ini diperuntukkan pada napi yang sudah menjalani masa kejahatan dua per tiga atau separuh dari pidananya hingga jatuh tempo 31 Desember 2020.

Berbeda dengan napi kasus narkoba yang pidananya dibawah 5 tahun, dia mengatakan, buat napi pidana umum tidak tersedia pembatasan, yang penting dia sudah menjalani setengah pidananya atau dua pertiga masa pidananya, atau melorot temponya dua pertiga sampai 31 Desember 2020.

Menurut dia, proses mendapatkan asimilasi, warga binaan (napi) tersebut tidak mengajukan orang per karakter, pihak Lapas/Rutan dan Kemenkumham dengan telah melakukan pendataannya dan sudah ada pelaporannya. “Sebetulnya mereka tak tahu. Kecil kemungkinan untuk awak binaan ini tahu bakal muncul. Seolah-olah mereka dapat lepas itu, seperti mendapat durian runtuh, ” tutur Edi.

Para warga binaan dengan berada di Lapas dan Rutan tersebut, kemungkinan ada yang setahun lagi bebas, atau enam bulan lagi. Dalam program asimilasi pemerintah saat ini, pelepasan mereka tersedia yang sudah lebih dulu dan ada yang belum. “Ternyata sudah diberi (bebas) duluan. Mereka akan senang bila bebas. Jangankan berbulan-bulan, mendapat keringan sehari saja telah senang, ” katanya.

Kanwil Kemenkumham Terkatung-katung telah mengajukan untuk program asimilasi kepada pusat. Kuota yang dikasih kepada Lampung yakni 2. 416 orang napi. Jumlah tersebut telah berjalan 1. 579 orang, serta akan terus bertambah semasa virus corona atau Covid-19 masih berlansung. “Kalau Covid-19 berhentik akhir April ini, maka tidak ada teristimewa asimilasi, ” ujarnya.

Menurut dia, kalau sudah dilepas atau diasimilasi, masih ada pembinaan lagi yang dikerjakan PK Bapas dan diawasi sebab kejaksaan, napi masih tetap melapor melalui video call , atau Whatsapp , dan SMS. Dia mengatakan, setiap napi yang terbuka mereka harus memberikan nomor kontak baik keluarga atau tetangganya.

Hal itu untuk memastikan mereka ada dalam rumah, maka laporannya juga ditembuskan ke RT dan RW. RT dan RW dilibatkan, kata dia, dalam rangka untuk melakukan penjagaan, terhadap napi tersebut bila melakukan pelanggaran pidana lagi. Menurutnya, bisa saja napi tersebut ditarik kembali dari program asimilasinya, karena selama menjalani asimilasi dan masa pidananya masih berlangsung tetapi melakukan pengingkaran tindak pidana maka ditarik kembali. Laporan tersebut ditembuskan ke polres dan polsek setempat.