membangun-kota-mosul-yang-porak-poranda-akibat-perang_201106134832-196

Patung Museum Budaya Mosul Bangkit dari Kehancuran ISIS

ISIS mengacaukan situs-situs bersejarah di Irak tak terkecuali di Mosul

REPUBLIKA. CO. ID, MOSUL – Museum Kebiasaan Mosul kini tengah bangkit usai kehancuran dari ISIS. Pada saat Mosul dibebaskan oleh pasukan pemerintah Irak pada Juli 2017, sebagian besar artefak di Museum Budaya Mosul telah dihancurkan atau dijarah.

Selanjutnya, kemitraan internasional segera diluncurkan buat mencoba dan menyelamatkan dengan tersisa. Ini dikoordinasikan spesialis dari Smithsonian Institution, Musee du Louvre, Dewan Dahulu kala dan Warisan Negara Irak dan Aliph Foundation, yang memberikan 1, 3 juta dolar dalam pendanaan. Order tersebut kini telah mendatangi tahap kedua, rekonstruksi gedung era 1970-an.

“Apa yang terjadi pada Museum Mosul adalah mimpi buruk bagi orang-orang museum, ” logat Kepala Near Eastern Antique di Louvre, Ariane Thomas, yang telah mengerjakan order tersebut sejak awal, dilansir dari laman The Art Newspaper pada Selasa (6/4).

“Mereka memiliki hampir segalanya ledakan, kebobrokan, diikuti semua masalah dengan dihadapi seluruh dunia, ” lanjut dia.

Disebutkan Museum itu menjadi korban dari semangat ISIS, dan ambisi tentara bayarannya. Mereka melarang penggambaran figuratif, artefak non-Islam, atau bukti peradaban sebelumnya, dan anggotanya secara rajin menghancurkan objek tersebut.

Pada museum, patung bersayap Asyur dibuat menjadi puing-puing, dan patung serta aksara paku dirusak dengan alat jackhammer. Sebuah perpustakaan yang terdiri dari 25 ribu sendi dan manuskrip dibakar menjadi tumpukan abu.

Barang-barang lain sengaja dipindahkan untuk dijual di pasar gelap. Museum itu juga pernah digunakan sebagai kantor perpajakan, & dokumen serta sampah berserakan di lantai.

Adapun tim memulai pekerjaan dengan pilihan dasar. Terdapat sebuah lubang besar menganga, di mana ISIS meledakkan platform Asiria yang diukir, dan lantainya perlu distabilkan. Ruang kolong tanah telah kebanjiran sebab konstruksi yang buruk di museum, sehingga air dipompa keluar.

Di samping itu, World Monuments Fund bercampur dengan tim pada Oktober lalu, dan akan menerapkan pengalamannya di bidang metode dan konstruksi untuk rencana tersebut. Aliph akan mendukung perencanaan arsitektur dan desain untuk gedung yang dirubah. Ini diharapkan akan dibuka dalam waktu sekitar 3 tahun.

Museum ini ialah salah satu dari sejumlah proyek rekonstruksi di praja. Aliph juga mengawasi restorasi Tutunji House, rumah pedagang abad ke-19 yang dibangun di bawah Kekaisaran Ottoman, dan Mashki Gate yang monumental di Nineveh.