Netty: May Day Saat Covid, Jangan Diamkan Buruh Kian Memelas

Netty: May Day Saat Covid, Jangan Diamkan Buruh Kian Memelas

Netty menyebut di tengah covid-19 gelombang PHK buruh kian menyusun

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Hari Pekerja 1 Mei 2020 diperingati dalam suasana prihatin akibat mewabahnya Covid-19 di lebih 200 negara. Tak ada aksi turun ke hidup, yang ada adalah PHK dan dirumahkannya kaum buruh.

“May Day ditengah pandemik Covid-19, jangan biarkan nasib kaum buruh kian memelas, ” kata Netty jelang acara pembahasan daring tentang peran istri besar daerah dalam penanganan Covid-19 yang diselenggarakan BPKD DPP PKS, Jum’at (1/5).

Diketahui aliran PHK makin meningkat sebagai aliran menurunnya kegiatan sektor perekonomian. Departemen Ketenagakerjaan mencatat per 20 April 2020, sebanyak 2. 084. 593 orang telah kena PHK serta dirumahkan sementara.

Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja serta Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Barat, Ade Afriandi, sampai dengan 25 April 2020 jumlah pekerja/buruh di Jawa Barat yang kehilangan pekerjaan akibat di-PHK dan dirumahkan sudah mencapai 62. 848 orang. “Pemerintah harus punya solusi yang jelas untuk menyelamatkan kaum pekerja. Jangan biarkan gelombang PHK terus meningkat. Makin kalau wabah Covid-19 hanya dijadikan kambing hitam untuk melegalkan proses PHK, ” katanya lebih sendat.

Selama ini agenda stimulus ekonomi dari pemerintah, menurut Netty tidak punya dampak istimewa dalam menyetop laju gelombang PHK. “Bukankah Presiden telah meminta jajarannya agar mempercepat stimulus ekonomi? Kok fakta di lapangan PHK dan perumahan sementara terus terjadi. Di Jawa Barat saja sekarang telah hampir mencapai 70 ribu orang” terang Netty yang juga Pemimpin Tim Covid-19 Fraksi PKS ini.

Netty juga menyindir Program Kartu Prakerja yang diberikan pemerintah melalui pelatihan-pelatihan online pada masyarakat. “Untuk apa melatih karakter dengan dana yang begitu besar di tengah situasi Covid-19 itu? Tidak ada jaminan peserta Kartu Prakerja bisa langsung diterima bekerja setelah selesai pelatihan. Tentunya sulit buat perusahaan buka lowongan order di situasi seperti ini, ” katanya.

Menurut Netty, program Kartu Pra Kerja hanya akan jadi balada nasib pekerja. “Lebih baik dana tersebut diberikan dalam bentuk bantuan langsung, siap tepat peruntukannya. Dengan begitu bangsa bisa bertahan hingga beberapa kamar kedepan menunggu industri kembali jalan, ” tandasnya.

Kesedihan dalam May Day juga bahkan terasa saat Baleg DPR RI masih memaksakan untuk melanjutkan pembahasan RUU Omnibus Law Cipta Kegiatan. “RUU ini masih menjadi diskusi, banyak menuai kritik, jika dipaksakan tentu berpotensi menimbulkan konflik, ” ujarnya.

Netty pun meminta pemerintah melalui BPJS Ketenagakerjaan menyegerakan membayar klaim jaminan baik saat buruh di PHK. “Ada berapa jiwa di belakang jutaan pekerja yg di PHK dan dirumahkan. Uang jaminan sosial itu tentu amat dinantikan guna menyambung hidup, “katanya.

Belakang, Netty mengajak kaum pekerja pada seluruh Indonesia untuk memaknai momentum Hari Buruh ini dengan langgeng semangat, tetap membangun kompetensi muncul dan tetap yakin akan hadirnya kemudahan setelah situasi sulit itu.