Mengingat Sajak Taufiq Ismail kepada Penguasa di Tahun 1969

Mengingat Sajak Taufiq Ismail kepada Penguasa di Tahun 1969

IHRAM. CO. ID, Pada pertarungan politik di tahun 1965 ada suatu renungan yang menarik dari sajak Taufiq Ismail. Kala itu dia baru saja dipecat sebagai pembimbing di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Keterlibatan Taufiq berhubungan para aktivis yang tergabung dalam Manifes Kebudayaan yang oleh gabungan komunis disebut dengan sebutan Manikebu dianggap bermasalah bagi penguasa kala itu.

Namun tidak hanya Taufiq yang dipecat sejak dosen dan kesempatan untuk meneruskan pendidikan ke Amerika Serikat urung total, HB Jassin yang periode itu sebagagai dosen dan kemudian disebut Paus Sastra itu, juga harus menanggalkan statusnya sebagai guru di Universitas Indonesia.

”Bertepatan dengan pelarangan Maniges Kultur oleh Bung Karno, melanjutkan belajar di Amerika kala itu pun urung. Saya ingat pelarangan tersebut muncul di hari Selasa, berserakan kepergian ke Amerika yang pada hari Jumat pun gagal. Real tiket dan bea siswa sudah ditangan. Kami pun sudah melayani selamatan keluarga, ” kata Taufiq Ismail, dalam sebuah perbincangan dengan Republika. co. id, beberapa waktu silam di kediamannya di ‘Rumah Puisi’ Air Angek, Kabuaten Tanah Datar, Sumatra Barat.

Saat ini, entah kenapa cocok Taufiq Ismail yang berjudul ‘Surat Ini Adalah Sajak Terbuka’ bersirkulasi di grup-grup Wattapps. Tiba-tiba puisi yang berada dalam antologi ‘Tirani dan Benteng’ hadir kembali. Layaknya lirik Taufiq Ismail pada pembawaan ‘Dunia Panggung Sandiwara’ yang dinyanyikan legenda rocker Ahmad Albar tetap dinikmati publik kembali.

Begini sajak tersebut selengkapnya:

———-

SURAT INI ADALAH SEBUAH SAJAK TERBUKA

Taufiq Ismail

Surat tersebut adalah sebuah sajak terbuka

Ditulis di dalam sebuah sore yang biasa. Sebab

Seorang warganegara biasa

Dari republik ini

Surat ini ditujukan kepada

Penguasa-penguasa negeri ini.

Mungkin dia bernama Presiden. Jenderal. Gubernur.

Barangkali dia Ketua MPRS

Taruhlah dia anggota DPR

Ataupun pemilik sebuah perusahaan politik

(bernama partai)

Mungkin dia Mayor, Camat atau Jaksa

Ataupun Menteri. Apa sajalah namanya

Malahan mungkin dia saudara sendiri

Jika ingin saya tanyakan adalah

Tentang harga sebuah nyawa dalam negara kita

Begitu benarkah murahnya? Kira-kira

Di setiap bayi dilahirkan di Indonesia

Ketika tali-nyawa diembuskan Tuhan ke pusarnya

Dan menjeritkan tangis-bayinya yang pertama

Ketika sang ibu menahankan pedih rahimnya

Di kamar bersalin

& seluruh keluarga mendoa dan menanti ingin

Akan datangnya anggota kemanusiaan baru ini

Ketika itu tak seorangpun cakap

Bahwa 20, 22 atau 25 tahun kemudian

Bayi itu akan ditembak bangsanya sendiri

Secara pelor yang dibayar dari buatan bumi

Serta pajak kita semua

Di timah raya… di depan kampus ataupun di mana saja

Dan dia tergeletak di sana jauh dari pokok, yang melahirkannya.

Jauh dari ayahnya

Yang pula mungkin sudah tiada.

Bayi itu pecahlah dadanya.

Barangkali tembus keningnya

Darah telah mengantarkannya ke dunia

Darah kasih sayang

Darah lalu melepasnya dari dunia

Darah kebencian

Yang ingin saya tanyakan adalah

Tentang harga sebuah nyawa pada negara kita

Begitu benarkah gampangnya?

Apakah wajib pembunuhan itu penyelesaian

Begitu benarkah murahnya?

Agak-agak sebuah

Nama lebih penting

Disiplin tegang dan kering

Mungkin pengabdian kepada negara asing

Bertambah penting

Mungkin

Tulisan ini adalah sebuah sajak terkuak

Maafkan para studen sastra.

Saya telah memakai bahasa terlalu biasa

Untuk puisi itu.

Kalaulah ini bisa disebut puisi

Maalkan hamba menggunakan bahasa terlalu biasa

Karena pembunuhan-pembunuhan di negeri inipun

Nampaknya juga telah mulai terlalu biasa

Kita tak bisa membiarkannya lebih lama)

Kemudian kita dipenuhi pertanyaan

Benarkah nyawa begitu murah harganya?

Untuk suatu penyelesaian

Benarkah harga-diri manusia kita

Benarkah kemanusiaan kita

Begitu murah untuk umpan sebuah pidato

Sebuah ambisi

Sebuah ideologi

Sebuah coretan sejarah

Benarkah?

(@Taufiq Ismail – Tirani dan Banteng 1965)