menteri-pertanian-syahrul-yasin-limpo-mentan-syl-bersama-anggota_210501013502-213

Jadi Motor Perekonomian, Anggaran Pertanian Harus Diperkuat

Menurut BPS, PDB pertanian pada tahun 2020 tetap bisa tumbuh sebesar 1, 75 persen.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA–Deputi II Tempat Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Perekonomian Musdhalifah Machmud menyampaikan pentingnya untuk meningkatkan porsi anggaran pertanian. Pertanian sewajarnya mendapat anggaran maksimal mengingat kontribusi pertanian yang besar terhadap perekonomian nasional saat ini.

“Pangan dan pertanian menjadi salah satu motor penggerak dalam perekonomian nasional. Kalau tidak ada pertanian, pertumbuhan ekonomi kita selama pandemi covid-19 bisa terkoreksi lebih dalam lagi, ” ungkapnya saat mengikuti Focus Group Discussion (FGD) Strategi Peningkatan NTP 2021 – 2024, di Kantor Sentral Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, pada Kamis (06/05/2021) ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), PDB pertanian pada tarikh 2020 tetap bisa tumbuh sebesar 1, 75 obat jerih. Dengan banyaknya sektor lain yang justru terkoreksi, perihal ini menunjukkan pertanian tak banyak terkena dampak pandemi covid-19.

“Dari rangkaian data BPS, kita bisa lihat sektor pertanian berkontribusi besar terhadap kemajuan ekonomi kita. Karena tersebut saya kira harusnya tersedia tambahan anggaran untuk menyelenggarakan percepatan, ” sebut Musdhalifah.

Musdhalifah biar turut menekankan bahwa ketenteraman petani bisa meningkat jika Indonesia bisa mewujudkan pendirian pertanian yang berkualitas. Buat itu dibutuhkan intervensi daripada pemerintah mulai dari infrastruktur, sarana dan prasarana pertanian, hingga pendampingan.

“Prasyarat utama pengembangan sektor pangan dan pertanian secara berkelanjutan adalah kualitas SDM. Sementara kondisi di lapangan, mayoritas tenaga kerja dalam sektor pertanian masih berlatar belakang pendidikan SD maupun tidak sekolah dan besar berusia di atas 45 tahun. Maka dibutuhkan anggaran untuk mengembangkan SDM pertanian melalui pelatihan dan pendampingan pengembangan usaha pertanian, ” ungkapnya.

Selain itu, Musdhalifah menyebutkan diperlukannya kebijakan strategis dalam buram stabilisasi harga di tingkat petani dan konsumen. Nilai komoditas pertanian memang mengarah fluktuatif karena adanya siklus musim.

“Diperlukan sinergi dengan lembaga lain dan penugasan BUMN pangan untuk menjaga harga level petani saat harga anjlok di musim panen besar, maupun pada saat harga terbang di musim paceklik, ” paparnya.

Kasus harga di tingkat petani turut menjadi perhatian istimewa Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Saat membuka kegiatan FGD ini, Syahrul mengamati anjloknya harga di level petani ketika produksi melimpah saat masa panen.

“Jangan sampai kita berupaya untuk meningkatkan daya, tapi harga anjlok jadi penerimaan petani pun mendarat. Pendekatan kita pun tidak boleh salah. Kita mengambil kebutuhan pangan 267 juta jiwa rakyat Indonesia terpenuhi, tapi yang memberi makannya malah menjadi miskin, ” tegasnya.

Syahrul menyebutkan, untuk meningkatkan ketenteraman petani, dibutuhkan berbagai intervensi, seperti memfasilitasi modal sejak hulu ke hilir meniti Kredit Usaha Rakyat (KUR), bantuan varietas benih unggul, hingga teknologi dan permutasi. “Teknologi harus digencarkan. Penuh petani di negara-negara maju bisa menjadi kaya sebab mereka menggunakan teknologi serta berinovasi. Saya yakin dengan sumber daya alam dengan kita miliki, petani kita pun bisa semaju itu, ” kata Syahrul.