0.84958200-1544525238-830-556

Intip Cara Thailand Optimalkan Utilitasi Industri Otomotif

Total utilitas di Thailand sudah mencapai 2 juta unit per tarikh.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA —┬áDi Indonesia, telah terdapat sebesar merek otomotif yang menyimpan investasi untuk menempatkan wahana produksi. Hal itu dikerjakan demi dapat memenuhi hajat kendaraan di Indonesia serta memasok ke negara-negara tetangga.

Namun, masa ini, seluruh fasilitas memihak duksi itu belum sanggup dimanfaatkan secara optimal. Tersebut tentu menjadi tantangan. Menetapkan beragam upaya agar utilisasi fasilitas produksi itu mampu mencapai level yang ideal sehingga investor tetap mengambil Indonesia sebagai salah mulia basis produksi.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D Sugiarto mengatakan, total daya produksi industri otomotif di Indonesia saat ini beruang pada kisaran 2, 4 juta unit per tarikh. “Tapi utilisasinya masih berada pada level sekitar mulia juta unit, ” kata pendahuluan Jongkie dalam sebuah webinar, pekan lalu.

Apalagi, utilitasi itu selalu mengalami tekanan signifikan karena efek pandemi Covid-19 dengan membuat pasar domestik & global melemah. Selain tetap mendorong pasar dalam kampung, dia juga berharap optimalisasi kapasitas pro duksi sanggup dicapai dengan mendongkrak transaksi ekspor.

Peristiwa ini mengingat pasar ekspor masih memiliki peluang tumbuh yang dapat digarap dengan baik. Untuk urusan penerapan, kata dia, Indonesia menetapkan belajar dari Thailand. Maka saat ini, Negeri Gajah Putih itu telah lulus mencatat utilisasi fasilitas produksi pada level dua juta unit per tahun.

“Padahal, pasar domestik Thailand juga berada di level satu juta unit. Sisanya, negara tersebut melakukan produksi untuk memenuhi keinginan di negara lain, ” ungkap dia.

Rumus kesuksesan Thailand, prawacana Jongkie, yaitu mampu mengakomodasi selera pasar di sejumlah negara yang memang betul berminat terhadap mobil sedu dan sport utility vehicle (SUV). Ini berbeda dengan Indonesia yang selama tersebut lebih mengutamakan produksi mobil multipur pose vehicle (MPV). Makanya, kebutuhan negara tetangga akan produk sedan dan SUV menjadi tak dapat terakomodasi dengan baik.

Oleh karena itu, dia berharap, industri otomotif di Indonesia dapat melayani diversifikasi produksi. Sehingga, wahana produksi yang sudah tersedia mampu meme nuhi kebutuhan pasar domestik dan global secara optimal.

Di satu sisi, dia juga menyarankan agar Indonesia melakukan sejumlah langkah perkiraan terhadap sejumlah non-tariff barrier yang diterapkan beberapa negeri. Ini mengingat terdapat sebanyak hal, seperti regulasi emisi dan safeguard di be berapa negara yang berpotensi membuat produk Indonesia tidak mampu diekspor ke negeri tersebut. “Ini adalah wake up call untuk kita semua sehingga hal tersebut dapat diantisipasi, ” ujarnya.