Fokus BATAN 5 Tahun, dari Tempat Pangan Sampai Kesehatan

Fokus BATAN 5 Tahun, dari Tempat Pangan Sampai Kesehatan

Nuklir bisa dimanfaatkan untuk bermacam-macam keperluan termasuk kesehatan.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) memasang sejumlah fokus perluasan yang tertuang dalam RPJMN 2020-2024. Kepala BATAN, Anhar Riza Antariksawan mengatakan Batan akan fokus di dalam pengembangan nuklir untuk pemanfaatan di bidang pangan, lingkungan, kesehatan, gaya, industri, hankam, dan material lulus.

“Batan sebagai pemimpin untuk uji kelayakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), sistem pemantauan radiasi lingkungan, radioisotop, dan radiofarmaka, ” katanya dalam pertemuan virtual dengan Republika, Jumat (16/10).

Dalam PLTN, Batan diberi tugas untuk menyiapkan segala infrastruktur PLTN dalam fase pra-project. Seperti melakukan feasibility study atau studi kepatutan, studi dampak dan non konsekuensi dengan lokasi studi kasus pada Kalimantan Barat.

Anhar mengatakan ini adalah kegiatan mula sebelum menentukan keputusan apakah hendak dibangun atau tidak. Ini merupakan fase analisis dan pengkajian. Termasuk menghitung dampak industri, ekonomi, dan lainnya. Batan bekerja sama secara sejumlah pihak untuk proses itu.

Selain itu, Batan juga fokus pada sistem penilikan radiasi untuk keselamatan dan kebahagiaan. Ia mengatakan radiasi bisa terjadi dimanapun, bahkan yang tercipta sebab manusia. Maka dari itu, Batan mencoba melakukan pemantauan terhadap risiko radiasi di lingkungan.

Selanjutnya dalam mengembangan radioisotop serta radiofarmaka. Ini menjadi salah utama fokus utama karena pasarnya betul besar. Pengembangan nuklir untuk kesehatan ini sangat dibutuhkan pasar.

Seperti radiofarmaka dibutuhkan untuk pengobatan kanker. Mayoritas kebutuhan radiofarmaka yakni sekitar 80-90 persen sedang dipenuhi oleh impor. Padahal Nusantara punya potensi besar dalam pengembangannya.

Indonesia punya reaktor GA Siwabessy di Serpong secara kapasitas atau daya reaktor 30 MW untuk memproduksi radiofarmaka. Anhar mengatakan saat ini Indonesia ketinggalan dari Australia yang bahkan cuma memiliki reaktor dengan daya 20 MW tapi bisa menguasai rekan radiofarmaka di seluruh dunia.

“Maka ini jadi program utama kami untuk perbaiki ekosistem radiobiofarmaka, karena kami tidak mampu berdiri sendiri, perlu bantuan semua pihak terutama PT Inuki dengan jadi produsennya, ” katanya.

Selain itu, Batan pula mendukung penggunaan nuklir untuk pendirian varietas unggul di pangan melalaikan proses radiasi. Kemudian pengembangan vaksin hewan, baterai lithium, penanggulangan stunting, pemanfaatan mineral dan lainnya.