ilustrasi-suap_200430200848-195

Dosa Mengangkat Pegawai Lewat Jalur Uang sogok

Islam melarang pegawai diangkat lewat jalur suap.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Kepala negara serta kepala daerah telah diberi benar oleh rakyat untuk mengemban suruhan membawa masyarakat kepada kemajuan negeri serta akhirat. Namun bagaimana kalau dalam pengangkatan calon pegawainya dikerjakan dengan jalan risywah (suap ataupun sogok)?

Dikutip sejak buku Harta Suci Muamalat Kontemporer susunan Erwandi Tarmizi, para pimpinan tersebut, tentu tidak mampu melakukan perintah yang begitu besar sendirian. Tempat membutuhkan para pembantu, yaitu para-para menteri, dan setiap menteri dibantu oleh ribuan para staf dalam departemen atau di kementeriannya.

Maka menjadi kewajiban untuk para pemimpin tersebut untuk mengangkat orang-orang yang terampil bekerja & bersifat jujur. Mereka menjadi jongos dalam menjalankan tugas, yang sudah diamanahkan di atas pundak pada setiap jajaran, mulai dari menteri hingga pegawai golongan terendah.

Bila hal ini itu abaikan, mereka mengangkat para pembantunya berdasarkan kekerabatan, tawaran politik, serta sogok yang diberikan oleh pada setiap calon pegawai, ini jelas suatu pengkhianatan.

Padahal Tuhan telah mewajibkan setiap muslim melayani amanah dengan baik dan menyampaikannya kepada yang berhak

Allah Subhanahu wa Ta’ala bertutur,

اِنَّ اللّٰهَ يَاۡمُرُكُمۡ اَنۡ تُؤَدُّوا الۡاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهۡلِهَا

“Sesungguhnya Tuhan menyuruh kamu menyampaikan amanat pada yang berhak menerimanya” (Surat Alquran An Nisa bagian 58).

Dan kesibukan tersebut merupakan penipuan terhadap anak buah yang dipimpinnya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam kepala yang menipu rakyatnya tidak hendak masuk surga.

Nabi shaIIaIIahu ‘alaihi wa saIIam berkata,

“Setiap majikan yang memimpin rakyatnya yang taat Islam, IaIu dia wafat dan dia menipu rakyatnya niscaya Allah mengharamkan dia masuk surga” (HR. Bukhari).

Dan yang pasti, proses pengangkatan pegawai yang diwarnai proses mendorong menyogok akan berakibat munculnya para pekerja yang tidak terampil di dalam bekerja. Hal ini termasuk menganjurkan pekerjaan kepada yang bukan ahlinya. Yang berakhir dengan sebuah kebobrokan. Sebagaimana sabda Nabi shaIIaIlahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

“Apabila sebuah urusan atau pekerjaan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka bersiaplah menghadapi hari kiamat” (HR. Bukhari).