Dibalik Kisah Malik bin Dinar Bersemuka Burung Bawa Roti

Dibalik Kisah Malik bin Dinar Bersemuka Burung Bawa Roti

Allah mengabulkan doa orang yang bertakwa.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA — Salah satu penyebar agama Islam adalah Tuan bin Dinar r. a. Selama hidupnya, banyak pengalaman yang memberinya pelajaran hidup.

Salah satunya yakni era bertemu dengan seorang kakek. Diceritakan dalam buku 40 Kisah Pengantar Anak Tidur oleh Najwa Husein Abdul Aziz, kala itu Malik bin Dinar sedang berpergian untuk menutup haji.

Ketika dalam perjalan, dia melihat seekor rumor yang di paruhnya terdapat sepotong roti. Melihat itu, dengan takjubnya dia bergumam, “Demi Allah, hamba akan memperhatikan apa yang bakal dikerjakan burung itu dengan sekerat rotinya. ”

Malik bin Dinar mendaftarkan burung itu dan sampailah zaman burung hinggap di depan kakek yang terikat. Lalu burung itu segera menyuapi kakek dengan roti sedikit demi sedikit.

Setelah menyuapi, burung itu amblas untuk mengambil air yang tempat taruh di paruhnya. Kemudian rumor itu menuangkannya ke mulut aki. Malik bin Dinar mendekati aki itu dan bertanya, “Hai orang tua, apa yang terjadi denganmu? ”

Kakek pun membalas, “Seluruh harta saya dirampas oleh perampok. Kemudian saya diikat disini sampai lima hari saya kudu menahan lapar. Tapi saya sabar dengan cobaan ini dan tetap berdoa kepada Allah. ‘Ya Tuhan yang selalu mengabulkan doa karakter yang sedang kesusahan, saya pantas kesusahan ya Allah, kasihilah aku. ’ Maka Allah mengutus burung ini.

Setelah itu, Malik bin Dinar membuka ikatan kakek dan mereka berjalan berhubungan untuk pergi haji. Dalam cerita tersebut, dapat diketahui, Allah mengesahkan doa orang yang bertakwa & orang yang kesusahan. Sebagaimana Allah menyebut dalam firman-Nya surat An-Naml ayat 62:

أَمَّن يَهْدِيكُمْ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَمَن يُرْسِلُ ٱلرِّيَٰحَ بُشْرًۢا بَيْنَ يَدَىْ رَحْمَتِهِۦٓ ۗ أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ تَعَٰلَى ٱللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Am may yahdīkum fī ẓulumātil-barri wal-baḥri wa may yursilur-riyāḥa busyram baina yadai raḥmatih, an ilāhum ma’allāh, ta’ālallāhu ‘ammā yusyrikụn. ”

Artinya: “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). ”

Dalam tafsir Kementerian Agama yang tercantum pada laman resminya, pada ayat ini dijelaskan jika manusia berada di dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, Dia Yang Kuasa akan menghilangkan kesusahan yang menimpa siapa biar. Yang Kuasa menjadikan kamu wahai manusia sebagai khalifah, penerus tingkatan sebelum di bumi. Tidak ada yang mampu melakukan hal serupa selain Allah.

Tatkala tafsir Al-Muyassar atau Kementerian Agama Arab Saudi yang ada dalam laman tafsirweb. com, ayat tersebut menjelaskan Allah menjadikan manusia sebagai pemakmur bumi. Manusia dapat menjemput sumber daya dan manfaat dengan ada di bumi.

Allah menjadikan setiap makhluk hidup pengganti bagi makhluk sebelumnya & menjadikan setiap umat pengganti untuk umat yang hidup sebelumnya. Tidak ada Tuhan selain Allah yang dapat memberi kalian kenikmatan-kenikmatan itu. Dia telah menetapkan bagi pribadi untuk hidup di muka dunia. Sesungguhnya, orang-orang musyrik, sungguh kurang sekali kalian mengingat bukti-bukti dan mengambil pelajaran yang dapat mengantarkan kepada keimanan.