ilustrasi-kdrt-_121205083314-108

Bahayanya Lisan yang Suka Mempertandingkan Domba

Menghindari menghindari adu domba adalah kewajiban mutlak.

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA– Ibnu Qudamah dalam kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin menceritakan tentang jongos yang suka mengadu domba. Diceritakan, seseorang akan menjual budak dan menyampaikan pada pembelinya, “Budak ini tidak mempunyai satu aib kendati, tapi Ia suka memperhadapkan domba”. Maka si konsumen berkata, “Tidak menjadi soal bagiku. ”

Setelah beberapa hari khadam itu berada di vila pembeli ia menghampiri tuannya majikan wanita seraya berceloteh, “Sebenarnya tuanku tidak mencintaimu. Meskipun begitu ia lestari ingin menikahimu. Jika tuan menghendaki, saya bisa membujuknya agar ia tidak menceraikanmu, lalu ambillah pisau untuk mencukur rambutnya tatkala dia tidur. Hal ini bisa menyihir sehingga ia tetap mencintaimu”.

Lalu budak itu berkata kepada tuannya (majikan laki-laki), “Istri tuan berkomplot dengan seseorang dan ingin membunuh majikan selagi tuan sedang tidur. ” Maka sang tuan pura-pura tidur lalu sang istri menghampirinya pelan-pelan sambil membawa pisau.

Mengira istrinya benar-benar akan membunuhnya. Maka ia segera bangkit dan membunuh istrinya. Keluarga sang istri mendatanginya, lalu membunuhnya, maka permusuhan melebar antara keluarga suami dan istri.

“Begitulah dahsyatnya pengaruh lisan yang mengadu domba, ” kata Abdillah Firmanzah Hasan dalam bukunya Ensiklopedia Amalan Nabi SAW Kematian, Ahlakul Karimah, Dzikir dan Doa.

Abdillah mengatakan adu domba dampaknya bisa merusak persahabatan, menceraikan ikatan rumpun, dan menghancurkan bangsa. Sebagai Muslim, menghindari adu kambing adalah kewajiban mutlak.

“Selain itu menetapkan penyaringan setiap informasi dengan kita dengar dan secara teliti agar tidak terjebak dengan berita yang tak benar, ” katanya.

Pelaku adu domba diancam dengan azab kubur sebagaimana hadits dari Bani Abbas RA yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya penghuni kedua kubur ini sedang diazab. Dan keduanya bukanlah diazab karena perkara yang mengandung untuk ditinggalkan. Yang prima, tidak membersihkan diri daripada air kencingnya. Sedangkan yang kedua, berjalan kesana-kemari menyebarkan namina (adu domba). (HR Ibnu Majah).